Aliran Aliran Psikologi
1. Aliran Behaviorisme
Peletak dasar aliran behaviorisme ialah Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936) dan William Mc Dougall (1871-1938). Pavlov adalah seorang sarjana ilmu faal yang fanatik dan sangat anti terhadap psikologi yang dianggap kurang ilmiah, ia mempunyai peran penting dalam psikologi behaviorisme karena studinya mengenai refleks didasari aliran ini. Ia terkenal dengan eksperimen mengenai refleks bersyarat atau refleks terkondisi yang dilakukan terhadap anjing yang mengeluarkan air liurnya. Menurutnya, segala aktivitas kejiwaan pada hakikatnya merupakan rangkaian refleks (Ahmad Fauzi, 2004).
Selain Pavlov pembangun aliran behaviorisme adalah Mc Dougall melalui teorinya tentang insting, ia berpendapat bahwa insting adalah kecenderungan bertingkah laku tertentu dalam situasi tertentu sebagai hasil pembawaan sejak lahir dan tidak dipelajari sebelumnya. Menurut Dougall semua tingkah laku manusia dapat dikembalikan pada insting yang mendasarinya seperti emosi takut dasarnya adalah insting melarikan diri, emosi heran dasarnya adalah insting ingin tahu, dan emosi kasih sayang dasarnya adalah insting orangtua (parental instinct)
Pada akhir abad ke-19, Pavlov memulai eksperimen psikologi yang mencapai puncaknya pada tahun 1940-1950 an. Jika yang dimaksud dengan psikologi adalah ilmu jiwa, “jiwa” bukan materi sehingga tidak dapat diteliti secara langsung. Penelitian difokuskan pada tingkah laku manusia, dengan asumsi bahwa tingkah laku manusia merupakan wujud dari kejiwaan manusia maupun hewan lainnya.
Aliran behaviorisme memandang manusia sebagai mesin (home mechanicus) yang dapat dikendalikan perilakunya melalui suatu pelaziman (conditioning). Sikap yang diinginkan dilatih terus menerus sehingga menimbulkan maladaptif behaviour atau perilaku menyimpang. Jika manusia dan binatang dilatih secara terus menerus dengan sesuatu yang lazim maupun yang tidak lazim, keduanya akan berperilaku yang sama. Pengondisian perilaku tersebut dibentuk melalui berbagai eksperimen, seperti eksperimen pavlov. Ia melakukan eksperimen terhadap seekor anjing yang sedang lapar. Ketika seekor anjing sedang dalam keadaan lapar, pavlov menyalakan lampu, untuk mengetahui apakah anjing tersebut berliur atau tidak? Ternyata, anjing yang lapar tidak mengeluarkan air liurnya, akan tetapi ketika dihadapan anjing itu diletakkan sepotong roti, ia mengeluarkan air liurnya.
Pavlov secara terus menerus menyalakan lampu sebelum menyodorkan sepotong roti di hadapan anjing yang lapar. Selanjutnya, pavlov menyalakan lampu meskipun ia tidak menyodorkan sepotong roti. Ternyata, anjing tersebut mengeluarkan air liurnya. Hal tersebut karena berdasarkan kebiasaan yang tertanam dalam jiwanya bahwa kalau ada nyala lampu berarti akan ada sepotong roti.
Eksperimen itu menunjukkan bahwa air liur anjing menjadi conditioned response dan cahaya lampu menjadi conditioned stimulus. Dengan demikian, “kebiasaan” telah membentuk perilaku “bodoh” seekor anjing. Ini yang kemudian dipersepsikan bahwa tingkah laku manusia maupun binatang dapat dibentuk, sehingga aliran ini di cap sebagai aliran yang memposisikan manusia seperti robot yang mudah dibentuk mengikuti orang yang membentuknya.
Behaviorisme memandang perilaku manusia sangat ditentukan oleh kondisi lingkungan luar dan rekayasa atau conditioning terhadap manusia tersebut. Aliran ini menganggap bahwa manusia adalah netral, baik atau buruk perilakunya ditentukan oleh situasi dan perlakuan yang dialami oleh manusia tersebut, pendapat ini merupakan hasil dari eksperimen yang dilakukan oleh sejumlah penelitian tentang perilaku binatang yang sebelumnya dikondisikan.
a. John Watson (1878-1958)
Pandangan-pandangan Watson yang paling utama adalah :
1. Teori tentang Stimulus dan Respons (S-R) ; stimulus adalah semua objek di lingkungan, termasuk juga perubahan jaringan dalam tubuh. Respons adalah apa pun yang dilakukan sebagai jawaban terhadap stimulus, mulai tingkat sederhana hingga tingkat tinggi, termasuk juga pengeluaran kelenjar. Respons yang overt dan covert, learned dan unlearned.
2. Penentu perilaku bukan unsur-unsur keturunan atau hereditas, tetapi unsur lingkungan dan faktor eksternal yang merangsang manusia bertindak.
3. Meskipun ada dalam jiwa manusia, kesadaran tidak kongkret. Oleh sebab itu, bukan objek yang harus dikaji secara psikologis karena penjelasan terhadap mind dipandang tidak ilmiah atau terlampau spekulatif. Menurutnya, pandangan-pandangan terhadap kesadaran, jiwa dan akal budi merupakan kajian filsafat yang harus ditinggalkan oleh psikologi.
4. Pendekatan empiris harus dinomorsatukan oleh psikologi yang dicirikan oleh pengamatan, pengujian di laboratorium dan positivistik.
5. Kebiasaan berperilaku ditentukan oleh kebutuhan, jika tidak dibutuhkan atau terlalu sering di praktikkan sehingga timbul rasa bosan, kebiasaan itu hilang dengan sendirinya.
6. Setiap perilaku dapat dikontrol karena ada hukun yang mengaturnya dengan memahami stimulus dan respons, perilaku tertentu dapat diprediksi secara ilmiah.
b. B.F. Skinner (1904-1990)
Pandangan-pandangan skinner antara lain :
1. Manusia adalah mesin yang bertindak dengan cara yang teratur dan dapat diprediksi sebagai jawaban terhadap tekanan eksternal
2. Perilaku sebagai perwujudan S-R tidak memiliki hubungan dengan proses internal individu.
3. Mengutamakan percobaan-percobaan yang sistematis dan terkontrol
4. Terdapat proses operant conditioning yang menentukan perilaku sebagai respondent behaviour dan operant behaviour dengan konsep utama bahwa reinforcement mendahului UCR/CR dan reinforcement terjadi setelah respons.
5. Jika reinforcers (penguat daya ingat) hilang, perilaku pun akan hilang atau yang disebut dengan extinction (pemusnahan)
6. Perilaku yang muncul diperkuat oleh adanya positive reinforcers (penguatan positif) dan ketiadaan negative reinforcers (penguatan negative). Penguatan positif adalah meningkatnya respons karena adanya stimulus yang dibutuhkan dan sangat menyenangkan, sedangkan penguatan negatif adalah peningkatan tingkah laku dalam menghindarkan diri dari kemudharatan. Hukuman adalah ketika tingkah laku menurun akibat sesuatu yang tidak menyenangkan.
7. Organisme hanya merespon satu stimulus yang diberikan reinforcement secara konsisten, terarah sesuai dengan yang diinginkan.
2. Aliran Psikoanalisis
Pembicaraan Psikoanalisa seakan-akan menjadi gersang tanpa mengikut sertakan S. Freud, pencipta psikoanalisa.
Sigmund Freud (1856-1939)
Freud bekerja dengan Joseph Breuer dalam menyembuhkan penderita histeria dengan teknik-teknik hipnosa. Breuer telah menyembuhkan banyak penderita histeria dengan teknik hipnosa dimana pasien yang berada dalam keadaan hipnosa disuruh mengemukakan hal-hal yang emosional yang dialami oleh pasien. Kepada pasien diberikan kesempatan untuk meluapkan (catharsis) segala hal yang dirasakan tidak enka dan menimbulkan ketegangan. Pada mulanya Freud ikut mempergunakan teknik ini, tetapi Freud segera mengubah teknik ini dengan menyuruh pasien yang tidak perlu dalam keadaan hipnosa mengemukakan masalah-masalahnya.
Freud mempergunakan teknik asosiasi-bebas untuk merangsang dan memancing perasaan-perasaan yang tidak enak dan yang telah dengan sengaja ataupun tidak sudah dilupakan. Sekali seorang pasien membicarakan hal-hal yang tadinya sudah dilupakan, maka selanjutnya tidak ada hambatan lagi untuk membicarakannya. Ada hal-hal yang terletak di bawah kesadaran manusia, baik yang sudah pernah disadari yang kemudian dengan sengaja di tekan kebawah kesadaran (dilupakan) yang dikenal dengan terminologi “suppresion” dan ada pula hal-hal yang akan muncul ke kesadaran dan kemudian oleh fungsi yang ada dalam diri seseorang (ego) tidak bisa muncul ke kesadaran. Adapun hal kedua ini disebut “repression”. Freud mengamati bahwa dengan asosiasi bebas para pasien bisa mengeluarkan ingatan-ingatan yang sudah dilupakan ataupun dorongan-dorongan yang terletak di bawah sadar dan dengan demikian terjadi pengurangan ketegangan-ketegangan yang dialami pasien.
Sebagai ilmuwan Freud melihat hukum-hukum energi yang ada dalam lapangan fisika yang berlaku untuk benda-benda di dalam alam ini, bisa diterapkan untuk kehidupan mental seseorang. Dilihatnya manusia sejak lahir mempunyai naluri, mempunyai kebutuhan dan mempunyai dorongan yang saling berhubungan satu sama lain, sehingga jelas ada unsur tenaga atau kekuatan pada kehidupan psikis seseorang, ini yang disebut psikodinamika.
Tenaga atau kekuatan psikis ini yang mempunyai latar belakang biologis yang disebut libido, dan sebagai naluri sudah ada pada setiap manusia pada waktu dilahirkan. Karena merupakan tenaga atau kekuatan, libido ini mendorong timbulnya tingkah laku seperti berpikir dan mengingat sesuatu. Dalam perkembangannya pusat atau daerah libido ini berpindah-pindah dan ini merupakan pula dasar uraiannya mengenai perkembangan kepribadian.
Ada tiga tingkatan kehidupan pada manusia yakni :
1. Animal, Freud menyebutkan tingkatan animal itu id, yaitu gudang semua dorongan atau tenaga yang sifatnya primitif, dorongan primitif ini mempunyai sifat yang disebut prinsip kenikmatan. Ia menghendaki segera memperoleh kenikmatan, bilamana dorongannya sudah sampai pada tingkat-tingkat dorongan untuk minta disalurkan. Struktur kepribadian id ini terdapat pada bayi yang masih dikuasai oleh prinsip-prinsip kenikmatan pada bermacam-macam dorongan yang terjadi secara berulang-ulang; satu dorongan terpuaskan, timbul dorongan lain yang menuntut pemuasan baru dan seterusnya.
2. Logika dan rasional atau disebut ego, ego berkembang dari id yang berhadapan dengan realitas. Freud mengatakan bahwa ego adalah sebagian dari id yang telah diubah oleh pengaruh-pengaruh langsung dari dunia luar melalui persepsi kesadaran. Ego melaksanakan prinsip realitas, ia mengatur dorongan-dorongan id dengan menunda atau menahan agar mencapai tujuan secara realistik.
3. Moral, struktur ketiga pada sistem kepribadian adalah superego, hubungan antara fungsi id dengan fungsi ego terjadi dalam rangka pemuasan dorongan-dorongan primitif yang timbul, antara keinginan untuk memperoleh dan pengaturan oleh ego untuk menuruti atau menolak dorongan tersebut.
Hubungan id dengan superego menjadi lain, lebih keras. Banyak proses primer yang bisa terjadi pada id dengan cara pengurangan dorongan-dorongan melalui ekspresi yang bebas, dan bersifat egosentris, tidak bebas lagi oleh berfungsinya superego yang memakai norma-norma moral ddan norma-norma sosial di mana seseorang itu hidup. Superego sering dihubungkan dengan nurani dan sistem nilai, meliputi nilai sosial dan nilai moral dan superego ini berkembang oleh hubungan yang dekat dan terus-menerus dengan orangtua, saudara, guru dan orang lain yang ada dalam lingkungan hidup anak. Superego mewakili batasan-batasan yang timbul dari lingkungan sosial dan kebudayaan yang memberikan arah apa yang boleh atau yang tidak boleh dan apa yang baik atau tidak baik dilakukan dan yang telah menjadi norma pribadi dari tingkahlaku sehari-hari.
3. Aliran Humanistik
Bagi humanisme, aliran behaviorisme dan psikoanalisis telah merendahkan jati diri manusia, manusia tidak lebih dari robot yang dengan mudah dikondisikan perilakunya. Pada awalnya aliran humanisme adalah salah satu aliran dalam filsafat. Pada masa Renaisans, muncul aliran yang menetapkan kebenaran berpusat pada manusia, yang kemudian disebut dengan humanisme. Humanisme berkaitan dengan eksistensi manusia, bagian dari aliran filsafat yang menyatakan bahwa tujuan pokok dari segala sesuatu adalah demi kesempurnaan manusia. Aliran ini memandang bahwa manusia adalah mahluk yang mulia, yang semua kebutuhan pokok diperuntukkan untuk memperbaiki spesiesnya
Asas-asas penting mengenai genera manusia dalam humanisme adalah :
1. Manusia adalah mahluk asli, artinya mempunyai substansi yang mandiri diantara mahluk-mahluk yang mempunyai wujud fisik dan yang gaib.
2. Manusia adalah mahluk yang memiliki kehendak bebas, dan ini merupakan kekuatan paling besar yang luar biasa dan tidak bisa ditafsirkan-kemerdekaan dan kebebasan memilih adalah dua sifat ilahiah yang merupakan ciri menonjol yang ada dalam diri manusia.
3. Manusia adalah makhluk yang sadar (berpikir) dan ini merupakan karakteristik menonjol yakni sadar dalam pengertian bahwa manusia memahami realitas alam luar dengan kekuatan “berpikir” yang menakjubkan dan merupakan suatu mukjizat, mampu menganalisis dan mencari sebab-sebab yang terdapat dalam setiap fakta atau realita tanpa terpaku pada hal-hal yang bersifat indrawi dan kausalitas dan menarik kesimpulan tentang “akibat” melalui “sebab” serta dapat menggambarkan secara tepat, luas dan teliti tentang lingkungannya.
4. Manusia adalah mahluk yang sadar akan dirinya sendiri artinya dia adalah mahluk hidup satu-satunya yang memiliki pengetahuan budaya, ini memungkinkan manusia untuk mempelajari dirinya sendiri sebagai objek yang terpisah dari dirinya: menarik hubungan sebab-akibat, menganalisis, mendefinisikan, memberi penilaian dan akhirnya mengubah dirinya sendiri.
Abraham Maslow (1908-1970)
Abraham maslow disebut sebagai “Bapak Spiritual” psikologi humanistik. Maslow memaknai manusia sejati yang memiliki kemampuan mengaktualisasikan diri melalui pengalaman-pengalaman dan berujung pada pengalaman puncak yang spiritualistik. Bagi Maslow, manusia dengan potensinya akan mampu mengembangkan bakat dan kemampuannya. Pengembangan potensi dan aktualisasi diri dilakukan dengan cara mengalami kehidupan secara sistematis, mulai yang terendah sampai yang tertinggi.
a. Kebutuhan fisiologis
b. Kebutuhan sekuritas diri
c. Kebutuhan cinta dan rasa memiliki
d. Kebutuhan harga diri
e. Kebutuhan aktualisasi diri
Maslow memberikan rumusan hidup bagi manusia, terutama mengenai kepuasan hidup, sehingga manusia akan mengalami masa-masa aktualisasi diri. Menurutnya, puaskan lah kebutuhan terendah sebelum mencari kebutuhan yang lebih tinggi. Jika kepuasan telah final pada tingkat terendah, jiwa akan dimotivasi untuk meraih kepuasan yang lebih tinggi. Demikian seterusnya, meskipun dalam kehidupan manusia selalu terombang-ambing oleh kebutuhan yang bersifat naik dan turun tidak teratur.
Carl Rogers (1902-1987)
Teori aktualisasi dirinya bertitik tolak dari pandangan tentang potensi diri. Setiap manusia memiliki potensi dalam jiwanya yang harus didorong keluar dan berbentuk proses aktualisasi diri yang sesungguhnya. Dorongan-dorongan yang dibutuhkan oleh setiap individu agar potensinya keluar datang dari luar seperti melalui proses pembelajaran, pendidikan, pembinaan dari orangtua terutama dari seorang ibu. Hal ini karena potensi diri awalnya merupakan sesuatu yang sangat rahasia dan pribadi.
Dorongan kuat dari lingkungan dan orangtua, terutama ibu, akan membangkitkan potensi diri manusia dan meningkatkan kesehatan jiwa. Ciri-ciri orang yang sehat menurut Rogers adalah :
a. Pandai menikmati hidup
b. Terbuka terhadap semua pengalaman
c. Memilih hidup sesuai dengan panggilan hati nurani
d. Apresiatif, bebas berpikir, tidak mau terikat, spontanitas, kreatif dan fleksibel.
Rogers tidak menyebut pasien sebagai orang yang sakit, menurutnya, yang ada hanyalah klien. Apabila klien mengalami sakit dan kejiwaannya terganggu, menurut Rogers, hanya dirinyalah yang mampu mengobati karena ia bertanggung jawab atas kesembuhannya sendiri dan pengembangan kehidupannya. Potensi diri yang terdalam perlu dikeluarkan tanpa batas oleh dirinya, oleh karena itu, psikoterapi Rogers dinamakan dengan person centered therapy atau client centered
Comments
Post a Comment