Berfikir Dalam Psikologi
PENGERTIAN
Pendapat para ahli mengenai berpikir itu bermacam-macam. Misalnya ahli-ahli psikologi asosiasi menganggap bahwa berpikir adalah kelangsungan tanggapan-tanggapan di mana subjek yang berpikir pasif. Plato beranggapan bahwa berpikir itu adalah berbicara dalam hati. Sehubungan dengan pendapat Plato ini adalah pendapat yang mengatakan bahwa berpikir adalah aktivitas ideasional. Pada pendapat yang terakhir itu dikemukakan dua kenyataan, yaitu :
a. Bahwa berpikir itu adalah aktivitas, jadi subjek yang berpikir aktif, dan
b. Bahwa aktivitas itu sifatnya ideasional, jadi bukan sensoris dan bukan motoris, walaupun dapat disertai oleh kedual hal itu; berpikir itu menggunakan abstraksi-abstraksi atau “ideas”. Ketika siswa menghadapi tugas, siswa tersebut berusaha sejauh kemampuan yang ada padanya untuk menyelesaikan tugasnya. Dengan kata lain siswa mulai berpikir dalam mencari pemecahan masalah yang dihadapkan kepadanya. Apa sebenarnya berpikir itu?
Dapat dikemukakan bahwa pada diri siswa terdapat aktivitas mental, aktivitas kognitif yang berwujud mengolah atau memanipulasi informasi dari lingkungan dengan symbol-simbol atau materi-materi yang disimpan dalam ingatannya khususnya yang ada dalam long term memory.
Si siswa mengaitkan pengertian satu dengan pengertian lain serta kemungkinan-kemungkinan yang ada sehingga mendapatkan pemecahan masalahnya. Namun demikian pengertian tersebut bukanlah satu-satunya pengertian mengenai berpikir, karena sudut pandang lain akan memberikan pengertian berpikir yang lain. Sudut pandang Behaviorisme akan memandang berpikir itu sebagai penguatan antara stimulus dan respons.
Salah satu sifat dari berpikir adalah goal directed yaitu berpikir tentang sesuatu, untuk memperoleh pemecahan masalah atau untuk mendapatkan sesuatu yang baru. Berpikir juga dapat dipandang sebagai pemrosesan informasi dari stimulus yang ada (starting position) sampai pemecahan masalah (finishing position) atau goal state.
Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa berpikir itu merupakan proses kognitif yang berlangsung antara stimulus dan respons. Sebagai ilustrasi dapat digambarkan sebagai berikut. Seseorang akan membeli pesawat radio, oleh penjual ditawarkan berbagai macam merk dengan berbagai macam harga. Sebelum pembeli memutuskan sesuatu jenis radio yang dibelinya, si pembeli mengolah informasi-informasi atau pengertian-pengertian yang ada pada dirinya, kelebihan serta kekurangan dari masing-masing merk, hingga akhirnya pembeli memutuskan pada merk tertentu.
a. Proses Berpikir
Symbol-simbol yang digunakan dalam berpikir pada umumnya berupa kata-kata atau bahasa (language), karena itu sering dikemukakan bahwa bahasa dan berpikir mempunyai kaitan yang erat. Dengan bahasa manusia dapat menciptakan ratusan, ribuan symbol-simbol yang memungkinkan manusia dapat berpikir begitu sempurna apabila dibandingkan dengan mahluk lain. Sekalipun bahasa merupakan alat yang cukup ampuh (powerful) dalam proses berpikir, namun bahasa bukan satu-satunya alat yang dapat digunakan dalam proses berpikir, sebab masih ada lagi yang dapat digunakan yaitu bayangan atau gambaran (image).
Untuk menjelaskan hal ini diberikan contoh sebagai berikut. Bayangkan bahwa anda ada di suatu tempat di sudut kota misalnya di Bulaksumur, dan anda diminta datang di Kraton. Dalam kaitan ini anda akan menggunakan gambaran atau bayangan kota Yogyakarta, khususnya yang berkaitan dengan Bulaksumur dan Kraton, dan menentukan jalan-jalan mana saja yang akan ditempuh untuk berangkat dari Bulaksumur sampai di Kraton.
Jadi disini anda menggunakan gambaran atau bayangan (image) yang merupakan visual map atau juga disebut sebagai cognitive map yang memberikan gambaran tentang keadaan yang dihadapi. Biasanya seseorang memasuki suatu kota atau tempat yang baru, akan memperoleh gambaran tentang kota atau tempat yang baru itu, dan ini memberikan gambaran kepada orang yang bersangkutan, atau memberikan visual map atau cognitive map. Ini yang sering disebut non-verbal thinking.
Walaupun berpikir dapat menggunakan gambaran-gambaran atau bayangan-bayangan atau image, namun sebagian terbesar dalam berpikir orang menggunakan bahasa atau verbal, yaitu berpikir dengan menggunakan symbol-simbol bahasa dengan segala ketentuan-ketentuannya. Karena bahasa merupakan alat yang penting dalam berpikir, maka sering dikemukakan bila seseorang itu berpikir, orang itu bicara dengan dirinya sendiri.
b. Cara Memperoleh Konsep Atau Pengertian
Untuk memperoleh pengertian ada beberapa macam cara, yaitu dengan tidak sengaja dan dengan sengaja. Pengertian yang diperoleh dengan tidak sengaja, ini yang disebut pengertian pengalaman. Tetapi ini tidak berarti bahwa pengertian yang diperoleh dengan sengaja itu bukan melalui pengalaman. Yang dimaksud dengan pengertian pengalaman disini ialah pengertian yang diperoleh dengan secara tidak sengaja, diperoleh sambil lalu dengan melalui pengalaman-pengalaman. Misalnya pengertian anak pada umumnya diperoleh melalui pengalaman, tidak dengan sengaja. Proses memperolehnya pada umumnya melalui proses generalisasi, kemudian atas daya berpikirnya timbul proses diferensiasi, yaitu proses membedakan satu dengan yang lain.
Pengertian yang diperoleh dengan sengaja, yaitu usaha dengan sengaja untuk memperoleh pengertian pengertian atau konsep, yang kadang-kadang disebut sebagai pengertian ilmiah. Karena pengertian atau konsep ini diperoleh dengan sengaja, maka pengertian ini dibentuk dengan penuh kesadaran. Dengan melalui proses belajar orang akan banyak memperoleh pengertian atau konsep. Karena pengertian dapat diperoleh dengan belajar, maka factor transfer akan banyak berpengaruh dalam kaitannya mendapatkan pengertian. Transfer dapat positif tetapi juga dapat negative. Bila seseorang telah mempunyai pengertian atau konsep baru, ini yang dimaksud dengan transfer positif.
Namun sebaliknya kalau pengertian yang telah ada itu justru menghambat dalam memperoleh pengertian baru, ini yang dimaksud dengan transfer negative. Dengan demikian transfer negative akan menghambat dalam memperoleh konsep atau pengertian baru.
c. Problem Solving
Apa yang dimaksud dengan problem telah dipaparkan di depan. Secara umum dapat dikemukakan bahwa problem itu timbul apabila ada perbedaan atau konflik antara keadaan satu dengan yang lain dalam rangka untuk mencapai tujuan, atau juga sering dikemukakan apabila ada kesenjangan.
Contoh siswa yang mendapatkan tugas dari gurunya, sehingga siswa yang mendapat tugas (problem) itu akan berpikir untuk mencari pemecahannya. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa dalam problem solving itu adalah directed, yang mencari pemecahan dan dipacu untuk mencapai pemecahan tersebut. Dalam mencari pemecahan terhadap problem solving itu ada kaidah atau aturan (rules) yang akan membawa seseorang kepada pemecahan masalah tersebut. Aturan ini akan memberi petunjuk untuk pemecahan masalah.
Dalam percobaan yang dilakukan oleh Thorndike sebagai tokoh aliran Behaviorisme, dimana eksperimennya menggunakan kucing yang dilaparkan, ditaruh dalam sangkar yang tertutup, makanan diletakkan diluar sangkar, dan pintu dapat terbuka apabila grendel yang berhubungan dengan pintu itu ditarik atau tertarik. Dalam eksperimen pertama, kucing berbuat sedemikin rupa, lari-lari, menggaruk-garuk dan sebagainya, hingga pada suatu waktu kucing menyentuh tali yang berhubungan dengan grendel hingga pintu dapat terbuka, dan kucing keluar menuju makanan yang ada diluar kandang atau sangkar.
Percobaan dilakukan berkali-kali, dan ternyata makin lama makin berkurang waktu yang digunakan kucing untuk keluar dari kandang untuk memperoleh makanan. Dari eksperimen tersebut Thorndike menarik kesimpulan bahwa dalam memecahkan problem yang dihadapi oleh kucing tersebut dengan cara coba-salah (trial-error). Adanya latihan akan mempercepat dalam pemecahan masalah. Latihan akan memperkuat hubungan stimulus respons (S-R).
d. Berpikir Kreatif
Dalam problem solving seseorang atau organisme mencari pemecahan terhadap masalah yang dihadapi. Namun dalam masalah berpikir orang akan dapat menemukan sesuatu yang baru, yang sebelumnya mungkin belum terdapat. Hal ini dapat dijumpai misalnya dalam diri seorang menulis cerita, ataupun pada seorang ilmuwan. Ini yang sering berkaitan dengan berpikir kreatif (creative thinking).
Dengan berpikir kreatif orang menciptakan sesuatu yang baru, timbulnya atau munculnya hal baru tersebut secara tiba-tiba ini yang berkaitan dengan insight. Sebenarnya apa yang dipikirkan itu telah berlangsung, namun belum memperoleh sesuatu pemecahan, dan masalah itu tidak hilang sama sekali, tetapi terus berlangsung dalam jiwa seseorang, yang pada suatu waktu memperoleh peecahannya.
e. Tingkatan-tingkatan Dalam Berpikir Kreatif
Dalam berpikir kreatif ada beberapa tingkatan atau stages sampai seseorang memperoleh sesuatu hal yang baru atau pemecahan masalah.
Tingkatan-tingkatan itu adalah :
1. Persiapan (preparation) yaitu tingkatan seseorang memformulasikan masalah, dan mengumpulkan fakta-fakta atau materi yang dipandang berguna dalam memperoleh pemecahan yang baru. Ada kemungkinan apa yang dipikirkan itu tidak segera memperoleh pemecahannya, tetapi soal itu tidak hilang begitu saja, tetapi masih terus berlangsung dalam diri individu yang bersangkutan. Hal ini menyangkut fase atau tingkatan kedua yaitu fase inkubasi.
2. Tingkat inkubasi, yaitu berlangsungnya masalah tersebut dalam jiwa seseorang, karena individu tidak segera memperoleh pemecahan masalah.
3. Tingkat pemecahan atau iluminasi, yaitu tingkat mendapatkan pemecahan masalah, orang mengalami “AHA” secara tiba-tiba memperoleh pemecahan tersebut
4. Tingkat evaluasi, yaitu mengecek apakah pemecahan yang diperoleh pada tingkat iluminasi itu cocok atau tidak. Apabila tidak cocok lalu meningkat pada tingkat berikutnya
5. Tingkat revisi, yaitu mengadakan revisi terhadap pemecahan yang diperolehnya.
F. Bentuk-Bentuk Berpikir
1. Berpikir dengan pengalaman (Routine Thinking), dalam bentuk berpikir ini, kita harus giat menghimpun berbagai pengalaman, dari berbagai pengalaman pemecahan masalah yang kita hadapi. Kadang-kadang satu pengalaman dipercaya atau dilengkapi oleh pengalaman-pengalaman yang lain
2. Berpikir Representatif, dengan berpikir representatif kita sangat bergantung pada ingatan-ingatan dan tanggapan-tanggapan saja. Tanggapan-tanggapan dan ingatan-ingatan tersebut kita gunakan untuk memecahkan masalah yang kita hadapi
3. Berpikir Kreatif, dengan berpikir kreatif, kita dapat menghasilkan sesuatu yang baru, menghasilkan penemuan-penemuan baru. Kalau kegiatan berpikir kita untuk menghasilkan sesuatu dengan menggunakan metode-metode yang telah dikenal maka dikatakan berpikir produktif bukan kreatif
4. Berpikir rasional, untuk menghadapi suatu situasi dan memecahkan masalah digunakanlah cara-cara berpikir logis. Untuk berpikir ini tidak hanya sekadar mengumpulkan pengalaman dan membanding-bandingkan hasil berpikir yang telah ada, melainkan dengan keaktifan akal kita memecahkan masalah.
G. Gangguan Berpikir
Beberapa gangguan berpikir, antara lain :
Ø Idiola : ketunaan yang terberat, terdapat tanda-tanda tidak ada kemampuan memnuhi hidup sendiri, sukar mengembangkan diri
Ø Imbesila : dungu, lebih ringan daripada idiot. Orang yang imbesila sudah dapat mandi sendiri, makan sendiri, hanya tingkat perkembangannya terbatas.
Ø Debilita : tolol, moron, lemah kemampuan. Kemampuannya mendekati orang yang normal, namun taraf kemajuan yang dapat dicapai masih sangat terbatas
Ø Demensia : mula-mula penderita mengalami perkembangan normal, tetapi sasuatu sebab perkembangannya terhenti dan mengalami kemunduran yang mencolok
Ø Delusia : delusia sangat erat hubungannya dengan gejala ilusi, penderita mempunyai keyakinan yang kuat tentang sesuatu, tetapi tidak menurut kenyataan
Ø Obsesia : penderita seolah-olah dikepung atau dicengkeram oleh pikiran-pikiran tertentu yang tidak masuk akal (tidak logis). Makin besar usaha untuk melepaskan diri, makin besar pula gangguan pikiran yang mencengkeram.
Catatan praktis :
- Kemampuan berpikir sangat besar pengaruhnya bagi kehidupan manusia, tetapi karena manusia tidak hanya mempunyai kemampuan pikir saja maka dalam pendidikan tidak dibenarkan kalau hanya memperhatikan perkembangan dan kecerdasan pikir semata. Hal ini akan menimbulkan pendidikan yang berat sebelah, yakni pendidikan yang intelektualistis yakni aliran yang mengagung-agungkan kemampuan pikir
- Jiwa manusia merupakan suatu kebulatan total, tiap gejala tidak berdiri sendiri, tetapi satu sama lain saling berhubungan dalam satu kebulatan organis. Daya pikir akan dapat bekerja lebih baik kalau fungsi-fungsi jiwa yang lain membantunya. Maka untuk mencapai pendidikan yang harmonis segala fungsi jiwa tidak dapat diabaikan
- Belajar tidak sama dengan berpikir. Dalam belajar terdapat aktivitas pikir dan dalam proses belajar diperlukan aktivitas seluruh fungsi jasmani dan rohani sebaik-baiknya
- Menghapal dan mengingat tidak sama dengan berpikir maka kemampuan menghapal dan mengingat yang baik belum memberi jaminan bahwa orang itu cerdas pikirannya. Namun demikian kemampuan mengingat tidak dapat diiabaikan, dan ingatan akan sangat besar fungsinya, kalau gejala sesuatu yang diingat benar-benar dimengerti. Berhubungan dengan ingatan, dalam kehidupan sehari-hari sangat dibutuhkan pengetahuan yang setiap saat siap digunakan, pengetahuan semacam ini disebut pengetahuan siap. Pengetahuan siap tidak hanya merupakan yang sekedar hafal saja, tetapi pengetahuan yang pengertiannya benar-benar dikuasai
- Kemampuan berpikir tumbuh bertingkat-bertingkat, dari tingkat kongkret ke tingkat abstrak. Pendidikan dan pengajaran hendaknya disesuaikan dengan tingkat perkembangan pikiran. Sehubungan dengan ini penggunaan peragaan sangat penting bagi anak yang masih dikuasai oleh sifat-sifat ke kongkretan
- Daya berpikir dapat berubah dan meningkat kualitasnya, demikian pula kecerdasan manusia dapat dikembangkan dan diselidiki. Namun demikian, peningkatan kecerdasan manusia ada batasnya, ada gejala-gejala yang menunjukkan kemauan kecerdasan, dan makin lama makin baik dan ada pula sebaliknya.
Kecerdasan tidak mungkin tumbuh melampaui batas kecerdasan yang ditentukan oleh bakat, pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan dibatasi adanya kematangan (maturity). Jadi, usaha meningkatkan kemampuan pikir tidak dapat dipaksakan kalau memang bakat tidak mengizinkan, dan tugas-tugas pikir tidak dapat dipaksa-paksakan kepada anak, kalau memang kematangan untuk sesuatu tugas pikir itu belum matang. Usaha menanamkan suatu pengertian tidak akan berhasil kalau segi kematangan diabaikan.
Comments
Post a Comment